HUKUM NEWS

MEMBUKTIKAN KEBERADAAN SETAN DIPENGADILAN


“This is a matter for God, worldly courts cannot pass any judgement on it.”

Pernyataan tersebut meluncur dari bibir Pastur Richard Moore, ketika menolak banding atas sanksi pengadilan yang dijatuhkan padanya. Bapa Moore pun bersedia menjalani hukuman pengasingan (seclusion). Sang rohaniwan dinyatakan bersalah atas kematian Emily Rose, gadis 19 tahun. Moore dianggap mengabaikan dan menghentikan upaya medis guna menyelamatkan Emily –yang diyakini masih ada potensi tertolong.

Judul Film
The Exorcism of Emily Rose

Durasi
119 menit

Produksi
Screen Gems, Sony Picture Entertainment dan Lakeshore Entertainment (2005)

Sutradara
Scott Derrickson

Pemain
Laura Linney, Tom Wilkinson, Campbell Scott, Jennifer Carpenter, Mary Beth Hurt

Itulah sepenggal akhir film yang berjudul The Exorcism of Emily Rose. Kendati Moore (diperankan oleh Tom Wilkinson) dinyatakan bersalah, pastur tersebut tak perlu lebih lama lagi mendekam di balik jeruji besi. Moore harus menjalani hukuman pelayanan sosial (time served).

Tentu putusan para juri (bukan hakim) ini dipengaruhi pula oleh andil argumen akhir sang pengacara, Erin Christine Bruner (Laura Linney). Erin lewat pendekatan simpatik-persuasif berujar, “Dalam beberapa kasus saya harus membela orang jahat. Namun Bapa Moore bukan salah satu di antaranya. Jangan kirim orang baik ke penjara”.

Inilah sisi unik pola peradilan luar negeri. Para pengacara dan penuntut tak melulu berbelit debat di balik rumitnya pasal-pasal. Sebelum dewan juri memutuskan perkara, baik penuntut maupun tergugat (defended) berkesempatan meyakinkan pandangannya, melalui sebuah orasi. Hakim pun hanya sebagai ‘moderator’ jalannya sidang. Yang mengambil keputusan adalah dewan juri.

Kisah bermula pada keceriaan Emily. Gadis tersebut berhasil meraih beasiswa penuh melanjutkan studinya ke jenjang kuliah. Walhasil, Emily kudu meninggalkan kampung halamannya, sebuah peternakan. Emily adalah anak sulung, dari empat bersaudara –semuanya perempuan. Keluarga Emily adalah pemeluk taat Katolik.

Namun, senyum cerah Emily makin memudar dan berganti dengan jerit histeris. Emily tak dapat melanjutkan kuliah. Hari demi hari dia habiskan di klinik kampus. Namun, itu pun tak banyak menolong. Dibantu teman kuliahnya, Jason, Emily kudu balik kampung.

Emily divonis menderita epilepsi dan psikosis. Tak jarang dokter ahli meyakini (sesuai kacamata medis), Emily melihat berbagai halusinasi. Emily pun merasa pengobatan tersebut tak mampu membuatnya lebih baik.

Lantaran pengobatan medis (medical treatment) tak kunjung membuahkan hasil, kedua orang tua Emily memanggil Moore, pendeta Katolik Roma. Sang ayah, Nathaniel Moore dan ibunda, Maria Rose, sepakat mengalihkan pengobatan lewat pengusiran roh jahat (exorcism).

Emily ditengarai kerasukan roh jahat. Setidaknya ada enam arwah yang bersarang di tubuhnya. Mereka adalah Cain, putra Adam yang membunuh Abel saudaranya sendiri (dalam Al-Quran, Cain disebut Qabil dan Abel dinamai Habil); Nero, kaisar Roma nan kejam; Judas Iscariot, murid pengkhianat Yesus; salah satu arwah dari Legion, pasukan Roma; Belial, setan yang terkutuk menurut kepercayaan Yahudi; serta Lucifer, setan yang merasuk mendarah-daging (devil within the flesh). Emily sendiri yang menuturkan hal itu.

Hingga Emily memutuskan tak memerlukan lagi pertolongan, baik medis maupun pengusiran roh. Emily akhirnya meninggal lantaran kondisi fisiknya yang terlanjur kritis. Penyidik medis (medical examiner) menyatakan Emily meninggal lantaran tak memperoleh pertolongan medis.

Penuntut publik Ethan Thomas (Campbell Scott) menyeret Moore ke pengadilan dengan tuduhan kelalaian. Thomas menuduh Moore sengaja menghentikan upaya medis. Dia percaya, nasib Emily bisa tertolong jika pengobatan medis masih rutin dilanjutkan.

Erin bersikukuh Emily bukan terkena penyakit. Erin menghadirkan saksi ahli, Dr. Adani. Antropolog tersebut menjelaskan, di berbagai daerah, masyarakat memang mengenal konsepsi kerasukan (possessed).

Debat Menarik

Film ini unik. Dibilang film horor iya, dibilang film hukum juga bisa. Jika penonton jeli, titik perhatian film ini bukan pada tensi thriller yang tercipta. Selain segi suspensi, film ini juga menyuguhkan sisi menarik pertarungan argumentasi Erin-Thomas.

Moore sedikit terbantu dengan alat bukti, sebuah tape perekam. Pada saat ritual pengusiran berlangsung, sang pastur merekamnya. Terdengar Emily memiliki dua warna suara. Yang pertama suara lemah khas gadis ringkih. Kedua, suara agresif berat –yang dipercaya Moore sebagai suara arwah yang berbicara lewat tubuh Emily. Emily berbicara dengan beraduk-aduk bahasa, Jerman, Yunani Kuno, Aramaic, serta Yahudi.

Thomas menilai rekaman tersebut adalah hasil karya yang kreatif. Namun belum cukup membuktikan suatu apapun. Lagipula, Thomas mencatat, di bangku kuliah, Emily memang mempelajari beragam bahasa tersebut. Dan hal itu dibenarkan oleh Moore.

Kembali Moore tertanting oleh sebuah bukti, selarit surat Emily menjelang meninggal. Dalam surat tersebut, Emily berkisah tentang apa yang dia alami malam hari menjelang kematiannya.

Kala itu, 21 Oktober (yang bertepatan pula dengan Halloween), Emily keluar ke halaman peternakan. Emily mengaku bertemu dengan Bunda Maria. Emily menggugat, jika dia adalah gadis yang baik, mengapa para setan bermukim di dalam tubuhnya. Bunda Maria hanya menjawab, setan tak akan pergi dari tempat di mana dia tinggal.

Bunda Maria menawarkan dua pilihan, apakah Emily bersedia mengikutinya, atau tetap tinggal. Emily memutuskan yang kedua. Setelah mengambil keputusan, timbul tanda luka pada tapak tangan dan kakinya. Luka tersebut mirip bekas pacak paku, seperti yang dimiliki Yesus yang tersalib. Moore percaya, itulah ‘sentuhan Tuhan’. Suatu saat, Emily bakal jadi orang suci (saint), tandas Moore. Esok harinya, Emily menutup mata.

Lagi-lagi Thomas tak percaya begitu saja. Luka tangan Emily, menurut analisis Thomas, adalah akibat dia menggenggam kawat duri pagar peternakan. Malam itu Emily berhalusinasi –ujar Thomas. Thomas lagi-lagi berkeyakinan, faktanya, Emily bukannya santa, melainkan sakit (sick).

Erin pun dalam sesi akhir sidang memberikan pernyataan yang patut direnungkan. Bahwa Emily terkena penyakit, belum tentu fakta. Bahwa Emily kerasukan, masih ada kemungkinan. “Fakta tak menyisakan kemungkinan (facts leave no room for possibility),” tuturnya. “Dan faktanya, Pastur Moore sangat mencintai Emily dan berusaha menolongnya,” pungkasnya.

Dari kisah Nyata

Film ini mengadopsi kisah nyata seorang gadis dari Jerman yang bernama Anneliese Michel. Anneliese lahir pada 21 September 1952 di sebuah desa kecil di Bavaria, dan meninggal ketika berusia 23 tahun. Keluarga Anneliese adalah penganut taat Katolik.

Anneliese mengalami gangguan dan gejala epileptik sejak 1968. Dia ditangani oleh Klinik Psikiatrik di Wurzburg. Namun kondisinya tak beranjak membaik, sehingga orang tuanya menghentikan pengobatan medis sebelas bulan sebelum kematiannya.

Sejak itulah (September 1975), Anneliese dirawat oleh pendeta lokal, Ernst Alt. Uskup Gereja Wurzburg Josef Stangl pun menyetujui pengobatan lewat exorcism. Josef lantas merekomendasikan salah seorang pastur, Arnold Renz, membantu Ernst.

Anneliese kerasukan arwah Cain, Nero, Adolf Hitler, Judas Iscariot, Lucifer, serta pendeta yang dianggap mursal pada abad ke-16, Fleischmann. Anneliese juga meracaukan beberapa nama arwah lainnya.

Pada 1 Juli 1976, Anneliese kembali berteriak tak terkendali, lantas kelelahan, hingga tertidur. Sejak itulah, dia tak pernah bangun lagi. Peristiwa tersebut bergulir ke meja hijau dua tahun kemudian. Baik kedua pastur dan kedua orang tuanya dituduh lalai dan membiarkan Anneliese meninggal –dengan sengaja menghentikan bantuan obat medis.

Kedua orang tua Anneliese dibela oleh pengacara nomor wahid Jerman saat itu, Erich Schmidt-Leichner. Erich berpengalaman bertangan dingin menangani sejumlah penjahat perang Nazi.

Akhirnya, pengadilan menyatakan keempat orang tersebut bersalah, namun dengan hukuman ringan nian, yakni masa percobaan 6 bulan (probation).

Kisah Anneliese ini pun digubah oleh sutradara tenar Jerman, Hans-Christian Schmid, dalam film-nya yang berjudul Requiem (2006). Berbeda dari The Exorcism yang bergenre horor, Requiem berbingkai drama.

Hingga kini, makam Anneliese dikunjungi oleh berjuta peziarah, dari berbagai belahan dunia.

Gambar dari Empire Movies.

copyright : antaranews

artikel lainnya :

ADOPSI ANAK tata cara dan akibat hukumnya

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: